THE
HUNGER GAMES – CATCHING FIRE Part #2
Katniss
sangat syok atas kedatangan Presiden Snow ke rumahnya dan menebarkan
ancaman pada Katniss yang akan menghancurkan semua orang yang
disayanginya. Pikirannya sangat kalut dan gelisah. Distrik-distrik di
ambang pemberontakan, ancaman maut langsung terhadap Gale. Nasib
semua orang yang disayanginya di ujung tanduk, entah siapa lagi yang
akan membayar akibat perbuatannya. Katniss merenung, bagaimana
caranya membuktikan pada seantero negeri bahwa dia mencintai Peeta
dengan sepenuh jiwanya.
Aku
tidak bisa melakukannya, aku tidak sebagus itu. Peeta yang bagus,
yang disukai orang banyak. Dia bisa membuat orang percaya apapun. Aku
yang biasanya tutup mulut, duduk dan membiarkan Peeta bicara sebanyak
mungkin. Tapi bukan Peeta yang harus membuktikan cintanya. Aku.
Renung Katniss.
Katniss
tak ingin siapapun tahu apa yang dibicarakannya dengan Presiden Snow
dan semua ancaman-ancman kematiannya. Tidak dengan ibunya dan juga
Prim. Katniss sudah berusaha membuat hubungan dengan ibunya lebih
baik. Dia sudah tak ingin lagi menghukum ibunya karena berlarut-larut
depresi atas kematian ayahnya. Ada satu hal yang disukai dari ibunya
saat kepulangannya ke distrik. Seorang reporter menanyakan pada ibu
Katniss atas tanggapannya tentang pacar baru Katniss yaitu Peeta. Ibu
Katniss menjawab, meskipun Peeta merupakan cowok ideal, Katniss masih
belum cukup umur untuk punya pacar. Ibu Katniss mengakhiri
perkataannya dengan menatap tajam Peeta. Terdengar tawa membahana dan
komentar-komentar dari para wartawan seperti, “Ada yang bakal kena
masalah”, lalu Peeta melepaskan tangan Katniss dan menjauh darinya.
Namun kemudian Peeta mendekat pada Katniss lagi. Hal semacam itulah
yang bisa memberi alasan kenapa mereka jarang terlihat bersama sejak
kamera berhenti menyoroti mereka.
Katniss
menimbang-nimbang siapa orang yang akan dia percayai untuk mengatakan
apa yang telah terjadi padanya dengan Presiden Snow. Dia berpikir tak
mungkin mengatakannya pada Peeta setelah semua yang dia lakukan
padanya. Dan sekarang harus menyuruhnya untuk berpura-pura saling
mencintai di hadapan seluruh negeri. Katniss tak ingin menyakiti
orang sebaik Peeta lebih jauh lagi.
Tim
peñata gaya Katniss telah tiba, Flavius, Venia dan Octavia. Mereka
sangat terkejut melihat penampilan Katniss yang berantakan. Padahal
menurut Katniss penampilan merekalah yang lebih terlihat berantakan
dan aneh. Dengan cepat ketiga orang dari Capitol itu mendandani
Katniss dari ujung kaki hingga ujung rambut tanpa ada celah
sedikitpun dan tentu saja sambil bergosip tentang Capitol. Mereka
membicarakan semuanya, betapa suksesnya Hunger Games, bagaimana semua
orang tidak sabar menunggu penampilan Katniss dan Peeta untuk
berkunjung ke Capitol lagi pada akhir Tur Kemenangan. Setelah itu
Capitol tidak lama lagi bersiap-siap untuk Quarter
Quell.
“Seru,
kan?”
“Kau
pasti merasa beruntung, kan?”
“Pada
tahun pertamamu menjadi pemenang, kau akan menjadi mentor di Quarter
Quell!”.
Mereka
berbicara saling sahut-sahutan dan Katnis hanya menanggapi dengan
jawaban, “Oh, ya”.
Yah,
tentu Katnis tahu, menjadi mentor adalah suatu mimpi buruk. Menjadi
mentor untuk anak yang dipersiapkan menuju pertarungan pembunuhan
massal dan melihatnya mati. Tapi yang lebih buruk entah apa yang akan
terjadi di Quarter Quell kali ini. Setiap dua puluh lima tahun sekali
diadakan Quarter Quell dengan peraturan khusus. Katniss ingat di
sekolah pernah dibahas bahwa Quarter Quell sebelumnya meminta dua
kali lipat jumlah peserta dalam Quarter Quell ke dua. Yang sangat
mengherankan di tahun itu Haymitch Abernathy dari Distrik 12 menjadi
pemenangnya.
Cinna
pun akhirnya datang, yang membuat Katniss ingin membicarakan
pertemuannya dengan Presiden Snow namun dia mengurungkannya karena
dia telah memutuskan akan memberitahukan pada Haymitch. Cinna mulai
membahas tentang bakat yang dimiliki Katniss. Setiap pemenang harus
punya paling tidak satu bakat. Ternyata Peeta punya bakat melukis
karena selama bertahun-tahun dia telah terbiasa menghias kue-kue yang
di pajang di toko roti keluarganya.
Setelah
tim peñata gaya Katniss selesai mendandaninya, Cinna akhirnya turun
tangan memakaikan jaket dan syal untuk Katniss. Ibu Katniss
memberikan pin Mockingjay yang dulu diberikan oleh Madge supaya
menjadi keberuntungan di Hunger Games. Effie Trinket berada di
samping Katniss dan bertepuk tangan. “Mohon perhatiannya! Kita akan
mengambil gambar pertama di luar, nanti para pemenang akan menyambut
pada awal perjalanan mereka yang luar biasa ini. Baiklah Katniss,
senyum lebar ya, kau penuh semangat untuk perjalanan ini, kan?”.
Terlihat
Peeta berjalan keluar dari pintu rumahnya. Katniss menampilkan senyum
lebar dan mulai berjalan ke arah Peeta. Lalu seakan tidak bisa
menunggu sedetik lebih lama lagi, Katniss dan Peeta berlari ke luar.
Peeta menangkap Katniss dan memutar tubuhnya kemudian dia terpeleset,
Peeta masih belum menguasai betul kaki palsunya. Merekapun terjatuh
di salju, tubuh Katniss berada di atas tubuh Peeta dan saat itulah
mereka berciuman untuk pertama kali setelah berbulan-bulan. Tapi saat
itu Katniss merasakan kemantapan yang di bawa Peeta terhadap
segalanya. Katniss meyakini, seburuk apapun dia menyakitinya, Peeta
takkan membuka rahasia apapun di depan kamera, Peeta takkan
menciumnya setengah hati, masih menjaga dirinya dengan baik
sebagaimana yang dilakukan Peeta di arena.
Hari
itu pun selesai dan semua orang dari Capitol, Katniss, Peeta dan juga
Haymitch telah berada di atas kereta untuk memulai Tur Kemenangan.
Setelah semuanya telah tidur dan terlihat sepi, Katniss menghampiri
Haymitch. “Kau mau apa?” tanya Haymitch,, bau anggur memenuhi
ruangannya.
“Aku
harus bicara denganmu”
“Sekarang?
Ini harus bagus ya,” Haymitch menunggu, “Jadi bagaimana?”.
Haymitch mengajak Katniss keluar kereta ketika kereta berhenti untuk
mengisi bahan bakar. Kemudian Katniss menceritakan semuanya tentang
pertemuannya dengan Presiden Snow, tentang Gale, tentang bagaimana
mereka semua akan mati jika ia gagal. Wajah Haymitch langsung sadar,
“Kalau begitu kau tak boleh gagal”.
“Apa
maksudmu?” tanya Katniss.
“Bahkan
jika kau berhasil lolos kali ini, mereka akan kembali beberapa bulan
lagi untuk membawa kita semua ke Hunger Games berikutnya. Kau dan
Peeta, kalian akan jadi mentor sekarang, setiap tahun dan seterusnya.
Dan setiap tahun mereka akan menyiarkan kembali hubungan asmara
kalian dan menyiarkan detail kehidupan pribadi kalian ke public, dan
kau takkan bisa melakukan apapun selain hidup bersama selamanya
dengan anak lelaki itu”.
Katniss
hanya bisa mengangguk dan dia paham bahwa hanya ada satu kehidupan di
masa depan nanti. Jika harus menjaga semua yang dia cintai maka dia
harus menikahi Peeta.
--------------------
Di
dalam kamarnya di kereta, Katniss meresapi betul apa yang telah
dibicarakannya dengan Haymitch tadi. Tentang kebebasan-kebebasannya
yang telah direnggut bahkan kebebasan untuk menikah dengan siapapun
yang ia cintai. Katniss pun kembali berpikir jika mereka tetap
menikah dan kemudian Presiden Snow memaksa mereka untuk punya anak
maka anak mereka akan menghadapi pemungutan setiap tahunnya dan
pastinya anak yang dilahirkannya akan mendapatkan tempat di Hunger
Games.
Katniss
memikirkan Haymitch yang tidak menikah dan tidak punya keluarga.
Menghapus segala kenangan di dunia dengan minum-minuman keras. Dia
bisa memilih wanita manapun di distrik tapi dia lebih memilih untuk
hidup sendiri.
Saat
di meja makan Katniss jadi uring-uringan karena memikirkan cara
menghadapi situasi sekarang ini. Katnis pergi menjauh dari setiap
orang-orang yang ada dan keluar dari kereta. Tidak lama kemudian ada
langkah kaki yang mengikutinya. “Aku sedang tidak ingin mendengar
ceramahmu,” kata Katniss yang berpikir itu adalah Haymitch.
“Akan
kucoba untuk singkat saja,” kata Peeta yang membuat Katniss merasa
sungkan.
“Dengar
Katniss, sudah lama aku ingin bicara denganmu soal sikapku di kereta.
Maksudku, di kereta terakhir. Kereta yang membawa kita pulang. Aku
tahu kau punya satu hubungan dengan Gale. AKu cemburu padanya bahkan
sebelum aku bertemu denganmu secara resmi. Dan tidak adil jika aku
memaksamu bertanggung jawab atas segala yang terjadi di Hunger Games.
Maafkan aku,”. Katniss merasa terkejut, bagaimanapun peran yang
dilakukannya selama di arena dia melakukannya dengan sepenuh hati.
Namun saat ini ia belum tahu bagaimana perasaannya terhadap Peeta.
“Maafkan
aku juga,” kata Katniss.
“Kau
tidak punya alasan untuk minta maaf, kau hanya berusaha menjaga kita
tetap hidup. Tapi aku tidak mau kita terus-terusan seperti ini. Tidak
saling bicara dalam kehidupan nyata tapi bergulingan di salju setiap
kali ada kamera meliput kita. Jadi kupikir kalau aku berhenti
bersikap… kau tahulah, terluka seperti itu, kita bisa mencoba
menjadi teman,” kata Peeta.
“Oke,”
jawab Katniss. Pernyataan Peeta membuat hatinya lebih tenang.
“Jadi
ada masalah apa?” tanya Peeta, “Mari kita mulai dari sesuatu yang
lebih sederhana. Bukankah aneh jika aku tak tahu kau rela
mengorbankan hidupmu demi menyelamatkanku… tapi aku tak tahu apa
warna favoritmu?” tanya Peeta. Senyum terbentuk di bibir Katniss.
“Hijau,
Kau?”
“Oranye”
“Oranye?
Seperti rambut Effie?” tanya Katniss.
“Tidak
secerah itu,” kata Peeta, “Lebih seperti… matahari terbenam,”.
Akhirnya mereka berdua kelihatan lebih ceria.
“Kau
tahu, semua orang heboh membicarakan lukisanmu. Aku merasa tidak enak
karena tidak pernah melihatnya,” kata Katniss.
“Untungnya
kereta penuh dengan lukisanku,” Peeta bangkit dan mengulurkan
tangannya membantu Katniss berdiri. “Ayo”.
Peeta
mengajak Katniss menyusuri lorong kereta untuk melihat
lukisan-lukisannya. Katniss melihat sesuatu yang berbeda. Peeta
melukis Hunger Games. Air menetes di celah gua mereka, kolam kering,
sepasang tangan-tangannya yang menggali tanah mencari umbi-umbian,
terompet emas Cornucopia, dan lukisan Katniss sendiri. Ada di
mana-mana. Di atas pohon, memukul baju di bebatuan sungai, terbaring
tak sadarkan diri di genangan darah.
“Bagaimana
menurutmu?” tanya Peeta
“Aku
membencinya,” jawab Katniss. “Selama ini aku berusaha mati-matian
melupakan arena pertarungan dan kau menghidupkannya lagi. Bagaimana
kau bisa mengingat itu begitu jelas?”.
“Aku
melihatnya setiap malam,” kata Peeta. Katniss tahu maksudnya,
mimpi-mimpi buruk yang selalu menghantui setiap dia tidur.
Setelah
melewati beberapa waktu di kereta, merekapun tiba di Distrik 11.
Katniss ingat bahwa Rue dulu pernah bilang peraturan-peraturan
diterapkan lebih keras di Distrik 11. Hal itu terlihat adanya
menara-menara pengawasan yang ditempatkan dengan jarak yang sudah
diatur, dijaga oleh petugas bersenjata. Distrik 11 merupakan daerah
yang lebih luas dibanding dengan Distrik 12, Distrik 11 adalah
distrik dengan bidang utamanya adalah pertanian.
Saat
mereka tiba di peron, tak ada acara penyambutan. Yang ada hanyalah
barisan Tentara Penjaga Perdamaian yang mengawal mereka dengan ketat.
“Sungguh, kita semua dianggap seperti penjahat,” kata Effie.
Katniss berpikir bahwa ini adalah saat baginya harus meyakinkan semua
orang bahwa ia jatuh cinta setengah mati pada Peeta. Upacara telah
dimulai namun tak ada tepukan tangan keras dan tidak ada sambutan.
Panggung khusus dibangun untuk tempat duduk keluarga dari
peserta-peserta yang tewas. Di tempatnya Tresh, hanya ada wanita tua
berpunggung bungkuk dan gadis jangkung berotot yang di duga Katniss
adalah saudara perempuan Tresh. Di tempat Rue… Katnis tidak siap
menghadapi keluarga Rue. Orang tuanya, dengan wajah yang masih
digurati kesedihan. Lima orang adiknya yang mirip dengan Rue. Postur
tubuh yang mungil, mata coklat berbinar membuat Katniss semakin
merasa tertekan menghadapi semuanya.
Peeta
melakukan tugasnya sesuai scenario yang diberikan Effie, dia
meyakinkan tentang Tresh dan Rue yang membuat Katniss tetap hidup dan
mengatakan bahwa ini adalah hutang yang takkan pernah bisa mereka
bayar. Lalu dengan ragu-ragu Peeta mengatakan sesuatu yang tak ada di
scenario. “Tidak mungkin ini bisa menghapus kehilangan anda semua,
tapi sebagai tanda terima kasih, kami ingin masing-masing keluarga
peserta dari Distrik 11 menerima satu bulan hasil kemenangan kami
setiap tahunnya selama kami hidup,”. Penonton langsung terperangah
dan bergumam keras menanggapi pernyataan Peeta. Sebelumnya tak pernah
ada yang melakukan hal seperti Peeta. Katnis tak tahu apakah
perbuatan ini illegal atau tidak, Peeta mungkin juga tidak tahu.
Katnis berpikir, hadiah ini sempurna, diapun berjinjit mencium Peeta,
ciuman yang sama sekali tidak terasa terpaksa.
Acara
hampir selesai namun Katniss merasa perlu mengatakan sesuatu. “Aku
ingin berterima kasih pada para peserta Distrik 11,”. Katnis
memandang adik-adik Rue yang masih sangat kecil dan kemudian
memandang dua wanita yang menjadi keluarga Tresh. “Aku hanya sekali
bicara dengan Tresh. Namun cukup sekali itu baginya untuk
membiarkanku hidup. Aku tidak mengenalnya, tapi aku selalu
menghormati Tresh, atas kekuatannya. Atas penolakannya untuk bermain
dalam Hunger Games dengan aturan orang lain tapi hanya dengan
aturannya sendiri. Kawanan karier menginginkan Tresh untuk bergabung
dengan mereka sejak awal tapi dia tidak mau melakukannya. Aku
menghormati dia untuk itu,”. Untuk pertama kalinya wanita yang
mungkin adalah nenek Tresh mengangkat kepala dan tersenyum samar.
Kemudian
Katniss menoleh memandang keluarga Rue. “Tapi aku merasa seakan
mengenal Rue, dan dia akan selalu bersamaku. Segalanya yang indah
mengingatkanku padanya. Aku melihatnya di bunga-bunga kuning yang
tumbuh di padang rumput di dekat rumahku. Aku melihatnya di
burung-burung Mockingjay yang bernyanyi di pepohonan. Tapi terutama,
aku melihatnya pada diri adik perempuanku, Prim,” suara Katnis
bergetar. “Terima kasih untuk anak-anak anda,” Katniss mengangkat
dagu menghadap ke penonton. “Dan terima kasih semuanya untuk roti
yang kalian berikan,”. Katniss berdiri di sana dan merasa hancur,
mengingat segalanya yang telah terjadi. Ribuan mata tertuju kepada
Katniss. Ada jeda yang panjang. Kemudian seseorang menyiulkan nada
Mockingjay empat not milik Rue.
Setelah
itu yang terjadi bukanlah kebetulan. Semua orang menekankan tiga jari
tengah tangan kiri mereka ke bibir lalu melambaikannya ke arah
Katniss. Itu adalah tanda dari Distrik 12, perpisahan terakhir yang
diberikan Katniss pada Rue di arena. Namun akhirnya Katniss sadar
akan tindakannya yang semakin mengancam Presiden Snow. Dia sadar
telah menimbulkan sesuatu yang berbahaya. Semua orang memberikan
tepuk tangan meriah pada Katniss dan Peeta, kemudian mereka berdua
kembali ke pintu.
Katniss
menyadari buket bunganya tertinggal dan mengambilnya kembali. Namun
dia telah melihat semuanya. Dua orang Penjaga Perdamaian menarik pria
tua yang bersiul tadi ke puncak tangga. Mereka memaksanya berlutut di
depan penonton. Lalu menembakkan peluru ke kepala pria tua itu.
-------------------------------------------
Berlanjut ke:
The Hunger Games - Catching Fire Part #3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar