THE
HUNGER GAMES – CATCHING FIRE Part #1
Katniss
dan Peeta berhasil menjadi pemenang Hunger Games ke-74 dan berhasil
menyentuh hati penduduk Panem terutama Capitol atas drama percintaan
rekayasa mereka. Akhirnya Katniss, Peeta dan juga Haymitch kembali
pulang ke Distrik 12.
Bulan-bulan
berlalu setelah perayaan Hunger Games, akhirnya tibalah saatnya untuk
Tur Kemenangan. Katniss kini telah tinggal di Desa Pemenang
bertetangga dengan Haymitch dan juga Peeta. Dengan sekuat tenaga
Katniss berusaha masuk ke dalam rumah Haymitch yang berantakan.
Diapun mendapati Haymitch yang sedang tertidur sehabis menenggak
minuman keras.
“Bangun!”
Katnis menyodok lengan Haymitch yang sedang bermimpi di alam lain.
“Bangun Haymictch. Ini hari tur!” masih berusaha membangunkannya.
Sudah tak tahan lagi akhirnya Katniss mengambil sebaskom air dan
disiramkannya ke kepala Haymitch.
“Apa
yang kaulakukan?” bentak Haymith
“Kau
menyuruhku membangunkanmu satu jam sebelum kamera-kamera itu datang.”
jawab Katniss.
“Apa?”
tanya Haymitch
“Dengar,
kalau kau mau dibangunkan dengan cara disayang-sayang, kau seharusnya
menyuruh Peeta.”
“Menyuruhku
apa?”. Tiba-tiba suara Peeta membuat Katniss merasa bersalah. Peeta
menaruh sebongkah roti yang baru dipanggang di atas meja dan
mengulurkan tangannya pada Haymitch.
“Menyuruhmu
membangunkanku tanpa kena radang paru-paru,” sahut Haymitch. Peeta
memberikan irisan roti pada Haymitch kemudian menoleh memandang
Katniss untuk pertama kalinya. “Kau mau?” tanya Peeta.
“Tidak
aku sudah makan di Hob,” jawab Katniss. “Terima kasih,”.
“Sama-sama”
jawab Peeta sama kakunya.
Seperti
itulah cara bicara Katniss dan juga Peeta sejak kamera berhenti
menyoroti kepulangan mereka dan kembali ke kehidupan mereka
masing-masing.
“Brrrr,
kalian harus banyak pemanasan sebelum acara dimulai,” sindir
Haymitch.
Katniss
kembali ke rumahnya dan bertemu dengan ibunya, memegangi tangan
Katniss seakan ingin menghentikannya. “Jangan kuatir, aku sudah
melepaskan sepatuku di sana,”
“Cuma
salju, bagaimana jalan-jalanmu? Menyenangkan?” tanya ibunya.
“Jalan-jalan?”.
Katniss tak mengerti apa yang ditanyakan oleh ibunya padahal ibunya
sudah tahu kalau Katniss pergi ke hutan nyaris semalaman. Terlihat
seorang laki-laki berdiri di ambang pintu dapur dan seketika Katniss
menyadari itu adalah orang dari Capitol.
“Ada
tamu yang ingin bertemu denganmu,” kata ibu Katniss.
“Kupikir
mereka baru datang tengah hari nanti” kata Katniss. “Apakah Cinna
datang lebih awal untuk membantuku bersiap-siap?”.
“Bukan
Katniss, yang….” ibu Katniss hendak menjelaskan.
“Silahkan
lewat sini, Miss Everdeen,” sahut pria dari Capitol itu. “Silahkan
masuk”.
Laki-laki
itu mengantar Katniss ke dalam ruangan. Saat membuka pintu itu
tercium perbaduan aroma bunga mawar dan darah. Seorang pria bertubuh
kecil dan berambut putih. Tidak lain adalah Presiden Snow. Katniss
memandang langsung ke mata Presiden Snow yang selicik ular.
Apa
yang dilakukan Presiden Snow di sini, tanya Katniss dalam hati.
Seketika Katniss menyadari kalau dirinya sedang dalam masalah besar.
Tak mungkin Presiden Snow susah payah datang kemari tanpa tujuan yang
besar. Katniss berpikir, jika dirinya sedang dalam masalah, begitu
juga dengan keluarganya dan semua orang yang mengenal dirinya.
Presiden Snow seakan sangat membenci Katniss, di mana pada Hunger
Games kemarin Katniss telah mempencundangi Presiden Snow dan membuat
Capitol tampak konyol serta melecehkan kekuasaannya.
Yang
Katniss lakukan hanyalah berusaha agar dirinya dan juga Peeta tetap
hidup. Segala tindakan pemberontakan adalah murni kebetulan. Tapi
ketika Capitol memutuskan bahwa hanya satu pemenang yang hidup dan
Katniss memiliki keberanian untuk menentangnya itu artinya sudah
pemberontakan. Salah satu pembelaan Katniss adalah berpura-pura
sedang jatuh cinta pada Peeta.
“Menurutku
kita bisa membuat keadaan ini jauh lebih sederhana dengan sependapat
untuk tidak saling membohongi,” kata Presiden Snow. “Bagaimana
menurutmu?”
“Ya,
menurutku itu akan menghemat waktu,” jawab Katniss. Presiden Snow
tersenyum licik.
“Para
penasehatku kuatir kau akan menyulitkan, tapi kau tidak berencana
untuk bersikap menyulitkan, kan?” tanya Presiden Snow.
“Tidak,”
jawab Katniss singkat mengatasi rasa takut akan darahnya yang telah
membeku.
“Kubilang
juga begitu pada mereka. Kukatakan pada mereka gadis manapun yang
bersusah payah seperti itu untuk menjaga dirinya tetap hidup takkan
mau membuang hidupnya begitu saja. Belum lagi dia harus memikirkan
keluarganya, Ibunya, adik perempuannya, dan semua… sepupunya.”
Dari kata Presiden Snow menyebutkan “sepupu”, dia tahu Katniss
dan Gale tidak bertalian darah. “Mari silahkan duduk,” kata
Presiden Snow mempersilahkan.
“Aku
punya masalah Miss Everdeen,” kata Presiden Snow. “Masalah yang
dimulai ketika kau mengeluarkan buah-buah berry beracun itu di
arena,”. Imbuhnya. “Kalau Ketua Juri Pertarungan, Seneca Crane,
punya otak, seharusnya dia meledakkanmu sampai berkeping-keping di
arena. Tapi sayangnya dia bersikap sentimentil. Jadi kau ada di sini
sekarang. Bisa kau tebak di mana dia berada sekarang?” tanya
presiden Snow.
Katniss
mengangguk, karena dari cara bicara Presiden Snow sudah jelas bahwa
Seneca Crane sudah dieksekusi. Wangi bunga mawar bercampur bau darah
kini tercium makin kuat karena jarak mereka hanya dipisahkan oleh
meja.
“Setelah
itu, tak ada yang bisa dilakukan selain membiarkanmu memainkan
scenario nistamu itu. Dan aktingmu lumayan juga, dengan gaya anak
sekolahan yang tergila-gila pada cinta. Orang-orang di Capitol banyak
yang percaya. Sayangnya, tidak semua orang di berbagai distrik
tertipu aktingmu,” kata Presiden Snow. “Tentu saja kau tidak tahu
tentang hal ini. Kau tidak punya akses informasi tentang suasana hati
distrik-distrik lain. Disejumlah distrik, mereka memandang muslihatmu
dengan buah berry itu sebagai tindakan perlawanan, bukan perbuatan
berlandaskan cinta. Dan jika anak perempuan dari Distrik 12 bisa
melawan Capitol lalu lolos begitu saja, apa yang menghentikan mereka
melakukan yang sama?” tanya Presiden Snow menyudutkan Katniss.
“Ada
pemberontakan?” tanya Katniss
“Belum,
tapi mereka akan mengikuti gerakan itu jika keadaan tidak berubah.
Dan pemberontakan biasanya mengarak pada revolusi. Kau paham artinya?
Berapa banyak orang yang akan mati? Kondisi apa yang harus dihadapi
mereka yang selamat? Apapun masalah yang mungkin dimiliki seseorang
terhadap Capitol, percayalah saat kubilang jika Capitol melepaskan
genggamannya sejenak saja dari distrik-distrik itu, seluruh system
akan roboh,”
“Pasti
system yang sangat rapuh ya kalau segenggam buah berry bisa
menjatuhkannya”
“Memang
rapuh, tapi bukan seperti yang kau perkirakan”.
Pintu
diketuk dan ibu Katniss masuk ke dalam membawakan teh dan kue-kue.
“Mau aku masakkan makanan untuk anda?” tanya ibu Katniss.
“Tidak.
Ini sudah sempurna. Terima kasih”. Ibu Katnis pun keluar.
“Aku
tidak bermaksud memulai pemberontakan,” ucap Katniss.
“Aku
percaya padamu. Itu tidak penting. Tampaknya peñata gayamu bisa
meramal masa depan dalam pilihan pakaiannya. Katniss Everdeen gadis
yang terbakar, kau sudah mencetuskan api, yang dibiarkan tanpa
pengawasan, percikan api itu bisa jadi kebakaran hebat yang
menghancurkan Panem.”
“Kenapa
anda tidak membunuhku sekarang?” sergah Katniss.
“Di
depan umum? Itu hanya akan menambah bensin dalam api,”
“Kalau
begitu, diatur saja seperti kecelakaan,”
“Siapa
yang akan percaya, kau pasti tidak percaya kalau menontonnya,”
“Kalau
begitu anda katakan padaku aku harus bagaimana. Dan aku akan
melakukannya,”
Presiden
Snow mengambil sepotong kue berhias bunga-bunga dan mengamati dengan
seksama. “Cantik, ibumu yang membuatnya?”.
“Peeta.”
“Peeta?
Bagaimana kabar cinta sejatimu?” tanya Presiden Snow.
“Baik”
“Kapan
dia menyadari tepatnya kadar ketidakpedulianmu?” tanya Presiden
Snow sambil mencelupkan kue ke dalam teh.
“Aku
bukannya tak peduli”
“Tapi
mungkin tidak sepenuh hati seperti anak muda itu sebagaimana yang
diyakini seluruh negeri,”
“Siapa
bilang aku tak peduli?”
“Kataku.
Dan aku takkan berada di sini jika aku satu-satunya orang yang punya
keraguan. Apa kabar sepupumu yang tampan itu?”
“Aku
tidak tahu… aku tidak…” suara Katniss terasa tersedat jika
harus membicarakan perasaannya terhadap dua orang yang sangat
disayanginya pada Presiden Snow.
“Bicaralah
Miss Everdeen. Dengan mudah dia bisa kubunuh jika pembicaraan ini
tidak menghasilkan kesimpulan yang menggembirakan. Kau tidak
menolongnya dengan menghilang ke hutan bersamanya setiap hari
minggu,”.
Katniss
terperanjat ternyata Presiden Snow mengetahuinya. Namun satu
kekhawatiran Katniss jika Presiden Snow juga mengetahuinya.
Sepulangnya dari Hunger Games, Katnis sering meluangkan waktunya
pergi ke hutan bersama Gale meskipun cuma di hari minggu saja.
Pertama kali bertemu Gale setelah acara itu Katniss langsung
memeluknya kemudian melakukan kebiasaan mereka berburu di dalam
hutan. Pada saat berada di dekat lubang di pagar dekat Hob, Gale
menangkup wajah Katniss dengan kedua tangannya lalu mencium Katniss.
Setelah sekian lama bersama dengan Gale, Katniss tak pernah tahu
segalanya tentang bibir Gale. Katniss tak pernah membayangkan
hagatnya bibir Gale saat menciumnya. Kemudian Gale melepaskan Katniss
sambil berkata, “Aku harus melakukannya, paling tidak sekali,”.
Lalu Gale pun pergi menghilang.
Katniss
tak menyadari kalau Presiden Snow menatapnya tajam. Dia tahu jika
dari sudut pandang Presiden Snow, dirinya sudah mengabaikan Peeta dan
memamerkan pada distriknya kalau dia lebih menyukai Gale. Sekarang
dia telah menempatkan nyawa Gale dan keluarganya, keluarganya sendiri
dan juga keluarga Peeta dalam bahaya karena kecerobohannya.
“Tolong
jangan sakiti Gale. Dia cuma temanku. Dia sudah menjadi temanku
selama bertahun-tahun. Hubungan kami cuma sebatas itu. Lagi pula
semua orang menganggap kami saudara sepupu sekarang,” ungkap
Katniss.
“Aku
hanya tertarik pada bagian hubunganmu itu mempengaruhi keadaanmu
dengan Peeta, yang pada akhirnya mempengaruhi perasaan
distrik-distrik lain”
“Aku
akan bersikap sama dalam tur. Aku akan mencintai Peeta seperti
sebelumnya.”
“Seperti
sekarang kau mencintainya’” Presiden Snow mengoreksi.
“Seperti
sekarang aku mencintainya,” Katniss menegaskan. “Aku akan
meyakinkan semua orang di distrik-distrik bahwa aku tidak melawan
Capitol. Bahwa aku jatuh cinta setengah mati,”.
“Yakinkan
aku,”. Presiden Snow hendak keluar dan berbisik di telinga Katniss,
“Omong-omong aku tahu ciuman itu,”. Presiden Snow akhirnya pergi.
Bau
amis darah, tercium dari napas Presiden Snow. Apa yang dia lakukan?
Pikir Katniss. Meminumnya. Katniss membayangkan Presiden Snow
menyesap darah dari cangkir teh. Mencelupkan kue ke dalamnya dan
meneteskan cairan merah ketika mengangkat kue.
-----------------------------------------------------------
Berlanjut
ke :
The
Hunger Games – Catching Fire Part #2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar